Minggu, 16 Agustus 2015

Berlayar (part 1)

“Perahu kertas kukan melaju, membawa surat cinta bagiku”.

Sepenggal lirik yang dibawakan Maudy Ayunda menggambarkan kira-kira perjalanan hidup gue sebentar lagi bakalan berubah atau lebih tepatnya lagi gue udah menemukan nahkoda untuk ngebawa kapal berlayar diluasnya lautan yang penuh ombak pasang surut. Kira-kira udah ketebakkan, gue lagi ngomongin apa? Iya bener! Gue sebentar lagi jadi anak daro (anak daro: sebutan bagi perempuan yang menikah/akan segera menikah, CMIIW).

“Dengan siapa div?”
“Dengan pria yang gak asing namanya disebut/yang banyak tertulis dibeberapa postingan blog gue. Edy Surya”

“Wah kapan div, hari bahagianya?”

(siap mau dengerin cerita gue yang kemungkinan besar bakalan panjang?)
“in sha Allah, tanggal 5 September”

Gak pernah nyangka kalo bakalan in sha Allah menikah tepat di hari ulang tahun gue. Gue juga gak pernah minta untuk ditepat-tepatin dengan hari ulang tahun gue, yang emang pas hari weekend, sabtu.

Memang tahun kemarin, kami ada berencana untuk menikah di tahun ini, yang belum jelas kapan bulannya, dan kapan lamarannya (saat itu gue belum dilamar secara resmi, tapi kalo dilamar langsung hati ke hati Edy sudah mengutarakannya dan gue lupa jelas kapannya).
Awal tahun lagi bolak baliknya panggilan kerjaan, gue juga dapet panggilan untuk segera menikah. Awal bulan April Edy memutuskan untuk menikah di akhir tahun, lebih tepatnya di bulan Oktober (rencana semula). Keluarga kami juga sudah saling tahu, dan merestui untuk segera dilaksanakan. Bulan Mei, Edy dipindah tugaskan ke Surabaya. Ujian nih mau nikah, pikir gue saat itu (sampe sekarang juga sih, hehe). Getting merriage, LDR pulak. Kan butuh tabung kesabaran yang banyak.

Sempet galau bakalan ditinggal beberapa bulan, tapi Edy meyakinkan kalau semua diniatkan untuk beribadah, apapun segala kendalanya akan bisa dilalui. All is well, kira-kira jargonnya begitu. Bagi yang punya pengalaman LDR, berantem-berantem dan kangen ngegemesin pasti ada dong. Sama kayak gue dan Edy. Sebulan gue LDR, malah lama-lama hubungan gue jadi makin kuat dan saling percaya satu sama lain. Gak ada perasaan yang timbul dihati, dia bakalan macem-macem ataupun sebaliknya. Tiap hari kami selalu bertukar cerita, hari ini ngapain aja, dan ada kejadian apa aja. Diskusi yang kami bangun, makin saling menguatkan satu sama lain walau terselip rasa kangen dan galau, hiya~

Sampai detik ini gue menulis blog, belom dateng deg-deg-an yang berarti menjelang hari H. Gue sama Edy masih santai santai aja. Padahal kebanyakan orang lagi ribet-ribet dan urus sana-sini. Memang sih, ada ribet-ribetnya juga. Tapi selalu gue bawa biasa aja, dan selalu yakinin diri bilang, “orang lain semua juga gini, santai. Bismillah ya”.

H-20. Bismillah. Divia dan Edy!!!! Hup.

Eniwey, kalo kalian gimana rasanya bakalan nikah? Hmmmm... beribu cerita pastinya ya ^_^


E&D (throwback tahun 2011, sehari setelah wisuda Edy. 8-7-2011)



0 komentar:

Posting Komentar

thanks a bunch for jejak jejak komennya *\(^_^)/*